TIAKUR, jemaatgpmtiakur.com – Gereja Protestan Maluku (GPM) Jemaat Tiakur menggelar perayaan syukur HUT Pelembagaan Ke-11 dengan mengusung tema “Bersyukur Melangkah Menjadi Berkat” di Gedung Gereja Eliora, Minggu malam (25/1/2026). Perayaan ini menjadi momentum refleksi atas pertumbuhan jemaat sekaligus menegaskan peran gereja dalam pembangunan Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD).

Sekretaris Klasis GPM Pulau-pulau Letti Moa Lakor, Pdt. R. Hitipeuw/L, S.Si, dalam sambutannya menyatakan bahwa usia 11 tahun merupakan rahmat dan anugerah Tuhan yang besar. Ia menegaskan pertumbuhan jemaat bukan semata karena kehebatan pelayan atau umat, melainkan karena kuasa Tuhan yang nyata dalam pelayanan.
“Usia 11 tahun adalah rahmat dan anugerah Tuhan yang besar bagi kita. Jemaat ini bertumbuh dan berkembang dengan banyak sekali dinamika yang sangat kompleks. Kalau Jemaat ini terus bertumbuh dan berkembang, itu bukan karena pendetanya atau umatnya hebat, tetapi karena Tuhan sungguh berkuasa dan kuasa Tuhan itu nyata dalam seluruh gerak pelayanan di Jemaat GPM Tiakur,” ujarnya.
Hitipeuw menekankan bahwa keberadaan Jemaat GPM Tiakur tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten MBD. Menurutnya, kehadiran jemaat di Pulau Moa, Klasis Pulau-pulau Letti Moa Lakor, dan Kabupaten MBD memiliki misi besar untuk mewujudkan kesejahteraan umat dan rakyat, khususnya di Kota Tiakur.
“Kita tidak bisa mengabaikan bahwa berdirinya Jemaat GPM Tiakur tidak terlepas dari Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya. Jemaat ini diperkenankan Tuhan hadir di sini karena ada misi Tuhan yang besar bersama-sama dengan pemerintah mewujudkan apa yang diharapkan oleh umat dan rakyat di MBD, secara khusus di Kota Tiakur,” jelasnya.
Ia mengapresiasi para pelayan khusus, pendeta, penatua, diaken, serta seluruh pengurus unit dan wadah organisasi yang telah memberi diri sepenuhnya untuk pelayanan. Pdt. Hitipeuw menyebut para penatua dan diaken sebagai pelayan yang sangat militan karena tetap melayani meski memiliki tugas pokok lain.
“Beta harus bilang kepada kantong semua sebagai pendeta, tugas kita jauh lebih ringan dari penatua dan diaken. Sebab pendeta kita tidak punya tugas lain selain tugas melayani, tetapi penatua dan diaken mereka punya tugas pokok yang lain, tetapi mereka pun memberi diri untuk waktu mereka yang sisa itu untuk melayani,” katanya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh perangkat pelayan termasuk pengurus AMGPM, panitia, tim litbang, tim verifikasi, dan Tim Eliora Media Center yang telah mendukung pelayanan jemaat.
Sebagai jemaat yang berada di pusat kabupaten, Hitipeuw menekankan bahwa konsern pelayanan tidak bisa mengabaikan kebutuhan sosial bermasyarakat. Jemaat GPM Tiakur yang heterogen dengan berbagai latar belakang umat harus peka terhadap perubahan teknologi, ekonomi, sosial politik, dan kesehatan umat.
“Jemaat GPM Tiakur adalah jemaat yang sangat heterogen, dia berbeda dengan 28 jemaat lainnya di Klasis Letti Moa Lakor. Sebab di jemaat ini terjadi perjumpaan begitu banyak manusia dengan latar belakang yang berbeda dan setiap orang yang datang di kota ini pun membawa pengaruh yang berbeda,” paparnya.
Ia mengingatkan para pelayan untuk kuat dan solid dalam persekutuan. Dengan 79 anggota Majelis Jemaat GPM Tiakur, kesetiaan, kerukunan, kekuatan, dan solidaritas menjadi sangat penting.
“Jemaat ini tidak akan maju kalau tubuh pelayannya terpecah, terkotak-kotak. Jemaat ini tidak akan peka dengan suara umat kalau di tubuh pelayan ini kita tidak satu hati,” tegasnya.
Hitipeuw menegaskan bahwa keberhasilan pelayanan bukan diukur dari megahnya gedung gereja, tetapi dari kesyukuran umat dalam menjalani hidup dan karakter kuat yang mereka miliki sebagai buah pelayanan gereja.

Sementara itu, Wakil Bupati MBD, Agustinus Lekwarday Kilikily, M.Si, menyampaikan bahwa gereja harus hadir di seluruh aspek kehidupan warga jemaat dan memberi nilai-nilai kebenaran. Ia menekankan pentingnya gereja berdoa untuk kesejahteraan bangsa dan negara serta bersinergi dengan pemerintah.
“Gereja harus hadir di seluruh aspek kehidupan warga jemaat dan memberi nilai-nilai kebenaran. Gereja perlu berdoa untuk kesejahteraan bangsa dan negara serta yang perlu dilakukan oleh gereja sebagai komunitas orang percaya adalah hidup benar, menjauhi kejahatan, dan bersinergi dengan pemerintah sebagai wakil Allah di dunia,” ujar Kilikily.
Ia menambahkan bahwa gereja harus hadir untuk menumbuhkan iman dan spiritual jemaat. Dengan iman yang kuat dalam menanamkan kebenaran Kristus, seluruh sendi kehidupan dapat ditransformasi untuk mengubah paradigma lama yang tidak relevan menjadi paradigma baru dalam Kristus.
Wakil Bupati menegaskan komitmen yang dibutuhkan pada HUT Ke-11 ini adalah membentuk karakter hidup berjemaat yang lebih mandiri dan dewasa agar dapat bertumbuh menjadi lilin-lilin kecil yang mampu menerangi setiap hati yang penuh kegelapan.
“Pemerintah Daerah tetap mengapresiasi dan menaruh harapan besar kepada pihak Gereja Protestan Maluku khususnya Jemaat GPM Tiakur beserta seluruh perangkat atas komitmen yang tulus dalam menunjang pembangunan di Kabupaten Maluku Barat Daya sehingga pola sinergitas dan kolaborasi semakin kuat,” katanya.
Kilikily mengakui bahwa semua kemajuan dan keberhasilan pembangunan di Kabupaten MBD tidak terlepas dari peran positif yang diberikan oleh segenap stakeholder, termasuk GPM Jemaat Tiakur. Ia menyebut tantangan pembangunan MBD adalah bagaimana keluar dari kemiskinan dan ketertinggalan guna mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik.
“Sinergi Pemerintah Daerah bersama gereja dalam pelaksanaan pembangunan daerah sangat penting karena gereja hadir untuk menopang dan menguatkan kapasitas pemerintah daerah dalam pelayanan masyarakat,” tegasnya.

Ketua PHBG, Simon Rumahlewang, melaporkan bahwa rangkaian kegiatan menyongsong HUT Ke-11 meliputi jalan sehat, senam bersama, pemeriksaan kesehatan gratis di lingkungan Gedung Gereja Eliora, dan penanaman pohon produktif di lokasi Gedung Gereja Kampung Babar yang berlangsung pada 25 Januari 2026 pagi hari.
Total dana yang terkumpul sebesar Rp17 juta diperoleh dari jual jasa panitia dan sumbangan-sumbangan. Simon menyatakan bahwa pelaksanaan semua kegiatan tersebut tidak terlepas dari topangan dan dukungan semua pihak.
Perayaan HUT Ke-11 Jemaat GPM Tiakur menjadi bukti nyata komitmen gereja untuk terus melangkah menjadi berkat bagi umat dan masyarakat Maluku Barat Daya. Sinergitas antara gereja dan pemerintah diharapkan semakin menguat dalam mewujudkan pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Turut Hadir dalam HUT Pelembagaan Jemaat GPM Tiakur Sekretaris Klasis GPM Pulau-pulau Letti Moa Lakor Pdt. R. Hitipeuw/L, S. Si, Ketua Majelis Jemaat GPM Tiakur Pdt. F. Lawa/M, S. Si, Wakil Bupati MBD Agustinus Lekwarday Kilikily, M. Si, Ketua DPRD Kabupaten MBD Petrus A. Tunay, S.H, Sekretaris Daerah Kabupaten MBD Eduard J. S. Davidz, S.T., M. Eng, Kepala Kantor Kementerian Agama, Lurah Tiakur, Maximilian Talupoor, Kepala UPTD KPH MBD Ace Kelabora.
Warga Gereja Senior sekaligus Pelaku Sejarah Jemaat GPM Tiakur Andarias Alerbitu, Kepala UPTD KPH MBD Ace Kelabora. (EMC-01)
