68 Remaja GPM Tiakur Resmi Alih Status

TIAKUR, jemaatgpmtiakur.com – Sebanyak 68 remaja Gereja Protestan Maluku (GPM) Jemaat Tiakur resmi mengikuti alih status ke jenjang katekisasi dalam ibadah Minggu pertama yang berlangsung di Gereja Eliora, Tiakur, Maluku Barat Daya, Minggu (3/5/2026). Momentum ini menjadi tahap lanjutan pembinaan iman bagi generasi muda gereja.

Ibadah dipimpin oleh Pendeta Ruth Saiya yang dalam khotbahnya menekankan pentingnya pendidikan iman berbasis keluarga dan nilai kebijaksanaan dalam kehidupan. Ia menyampaikan tiga pesan utama kepada jemaat.

“Pertama, pastikan bahwa proses pembelajaran dalam rumah tangga terjadi secara langsung, dari orang tua kepada anak, dari kakak kepada adik, sehingga nilai-nilai itu dapat didengar, diterima, dan disimpan dalam hati,” ujar Ruth Saiya dalam khotbahnya.

Ia menambahkan, tanggung jawab pendidikan tidak hanya berada pada negara atau lembaga formal, tetapi juga menjadi tanggung jawab setiap keluarga.

“Kedua, pendidikan adalah tanggung jawab bersama, termasuk rumah tangga. Ketiga, pintar saja tidak cukup, tetapi hikmat membuat kepandaian menjadi berarti dalam kehidupan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat GPM Tiakur, Pendeta Febi Lawa, dalam arahannya menegaskan bahwa alih status ke katekisasi merupakan langkah penting dalam pertumbuhan iman dan kedewasaan hidup remaja gereja.

“Momen ini adalah langkah penting dalam perjalanan iman anak-anak gereja. Pertumbuhan mereka tidak hanya secara fisik dan intelektual, tetapi juga mental, moral, dan spiritual,” ujar Lawa.

Ia menjelaskan bahwa Gereja Protestan Maluku menyediakan pendidikan formal gereja melalui Sekolah Minggu Tunas Pekabaran Injil (SMTPI) dan katekisasi sebagai wadah pembinaan iman yang berkelanjutan.

“Melalui SMTPI, anak-anak dibimbing sejak dini mengenal kasih Tuhan, belajar nilai-nilai Kristiani, hidup disiplin, menghormati sesama, serta membangun karakter takut akan Tuhan,” katanya.

Menurutnya, katekisasi menjadi tahap lanjutan untuk memperdalam pemahaman iman.

“Dalam proses katekisasi, anak-anak akan belajar firman Tuhan, ajaran gereja, makna pengakuan iman, serta tanggung jawab sebagai anggota tubuh Kristus dan saksi Tuhan di tengah dunia,” ujar Lawa

Ia juga menyoroti tantangan generasi muda di tengah perkembangan teknologi, pergaulan bebas, dan pengaruh media sosial.

“Kita perlu mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga sehat secara mental dan kuat secara spiritual,” katanya.

Lawa menambahkan, anak dengan dasar iman yang kuat akan mampu menghadapi tekanan hidup, menjaga pergaulan, serta mengambil keputusan yang benar. Ia mengutip Amsal 22:6 sebagai dasar pembinaan iman.

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan peran orang tua sebagai pendidik utama dalam keluarga.

“Pendidikan iman pertama dan utama tetap berada dalam keluarga. Gereja membantu, tetapi keteladanan orang tua adalah fondasi utama,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Majelis Jemaat turut menyampaikan apresiasi kepada para pengasuh SMTPI dan pembina remaja gereja.

“Kami berterima kasih atas dedikasi para pengasuh yang terus membina anak-anak dengan penuh kasih dan ketekunan,” ucap Lawa

Selain alih status remaja, ibadah tersebut juga dirangkaikan dengan pemekaran unit pelayanan jemaat. Unit Betania resmi dimekarkan menjadi satu unit, yakni Unit Betsaida.

Pemekaran ini didasarkan pada Surat Keputusan Majelis Jemaat GPM Tiakur Nomor: 07/KPTS/KLM-JTK/D.14/5/2026 tentang pemetaan, penataan, dan pemekaran unit pelayanan jemaat.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pelayanan gereja serta mendukung pembinaan iman jemaat secara lebih terarah dan merata di wilayah Tiakur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *